
Banyaknya kasus pindah agama yang terjadi dikalangan anak muda Hindu mungkin bukan suatu hal yang aneh lagi, apalagi didaerah yang umat Hindu nya merupakan minoritas, tetapi menjadi aneh kalo kasus pindah agama ini terjadi di Bali dimana umat Hindu merupakan mayoritas. Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita? Fenomena apakah ini? Berikut wawancara Agus dengan Heriyana, aktivis muda Hindu.
agus : Indra, bagaimana pendapat loe mengenai fenomena pindah agama di kalangan muda Hindu?
heri : Hanya satu kata “Prihatin”,………agus : Maksudnya
heri : Prihatin karena banyak dari mereka yang pindah agama bukan karena panggilan jiwa, tapi justru karena faktor eksternal misalnya pacaran atau menikah dengan pasangan yang beda agama.
agus: Penyebabnya
heri: Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki pemahaman yang jelas mengenai agama Hindu, sehingga ketika mereka harus menjelaskan mengenai apa itu Hindu, mereka tidak bisa menjelaskannya. Hal ini mungkin terjadi karena mayoritas umat Hindu lebih mengedepankan sisi upacara daripada sisi filsafat agama, ini ngga salah karena agama Hindu menyediakan banyak cara untuk memuja sang pencipta, yang menjadi masalah adalah mereka terkadang ngga paham arti upacara-upacara tersebut, akan menjadi lebih baik apabila pelaksanaan upacara-upacara tersebut disertai dengan pemahaman mengenai arti upacara-upacara tersebut, sehingga terjadi keseimbangan.
agus: Jadi menurut loe penyebab banyak anak muda Hindu yang pindah agama adalah karena kurangnya pemahaman meraka terhadap agama Hindu?
heri: Ya, tapi gua pikir ngga cuman itu aja, faktor budaya juga merupakan salah satu penyebabnya, dan kasta termasuk di dalamnya. Kasta yang oleh sebagian orang dianggap sebagai suatu kesalahan, namun pada kenyataan masih dianut oleh sebagian orang Bali. Banyak orang tua yang melarang anak perempuannya pacaran atau menikah dengan pria Hindu yang kastanya lebih rendah,dan mereka lebih rela anaknya menikah atau pacaran dengan pria non Hindu. Gua punya teman yang gara-gara masalah perbedaan kasta ini harus pacaran backstreet, padahal mereka tinggal di Jakarta, yang katanya adalah kota metropolitan dan modern. Kalo di Bali saja yang umat Hindunya mayoritas, kaum muda Hindunya mengalamai kesulitan mencari pasangan hidup, apalagi di Jakarta yang umat Hindunya minoritas.
agus: Solusinya?
heri: Mungkin dalam Weda harus ditambahkan satu sloka yang menyatakan bahwa, setiap umat Hindu yang pindah agama, maka hukum nya adalah neraka jahanam, pasti ngga bakalan ada yang pindah agama, hehehehehehe,…….!!!!
Solusinya kaum muda Hindu harus berani mendobrak semua aturan tentang kasta, kalo perlu kawin lari aja dech. Kaum muda Hindu harus berani memutus lingkaran ini, apalagi PHDI telah mengeluarkan Bisama tentang Kasta.
agus: Mungkin kita harus bikin kampanye “SAY NO to KASTA”?
heri: Hahahaha sulit juga,…..yang setuju dengan kampanye tersebut pasti mereka-mereka yang berasal dari kasta bawah, sedangkan mereka yang berasal dari kasta atas pasti lebih memilih diam (mendukung), mereka kan diuntungkan dengan sistem kasta.
agus: Kembali ke masalah kurangnya pemahaman kaum muda Hindu terhadap agama Hindu. Menurut loe bagaimana kualitas pendidikan Hindu sekarang.
heri: Waduh,…..gua bingung nich kalo ditanyain masalah ini, soalnya gua dulu paling sering cabut, tapi gua cabut bukan karena gua ngga suka belajar agama, gua ngga suka karena pola pendidikan kita yang masih mengedepankan cara-cara lama seperti, misalkan guru-guru ketika mengajar cenderung teoritis, apa yang ada di buku itu lah yang disampaikan , seharus nya buku hanyalah panduan, para guru dituntut dapat mengembangkan materi, selain itu juga guru-guru cenderung menempatkan murid sebagai pendengar yang baik. Mungkin pola-pola pendidikan luar sekolah seperti diskusi agama bisa menjadi alternatif pelengkap. Di sekolah agama mereka mendapat pelajaran yang bersifat teori dan di diskusi agama mereka mendapat aplikasi/penerapannya, jadi bisa seimbang.
agus: Kalo begitu harus ada kerja sama antara otoritas pendidikan di pura-pura dengan para “pejabat” otorita dan banjar
heri: Tepat sekali, pengembangan mental kaum muda Hindu tidak semata-mata, tergantung pada lembaga pendidikan Hindu, tapi juga menjadi tanggung jawab kita semua, PHDI, otorita pura, banjar, organisasi-organisasi Hindu, dan tentunya orang tua. Jangan cuman pembangunan fisik aja yang ditingkatkan tapi juga pembangunan mental, gua suka heran sama bapak-bapak kita, kalo disuruh nyumbang (ngayah) untuk pembangunan fisik seperti pura atau pembuatan ogoh-ogoh semangatnya minta ampun, ngelebihin semangat tukang becak, tapi kalo disuruh nyumbang untuk acara-acara yang lebih bersifat pengembangan mental dan pengetahuan seperti diskusi agama, AAAMMMPPUNNNNNN dech susah banget!!!!!


0 komentar:
Posting Komentar